Harapan Hidupnya Kandas, Si Mawas yang Bernasib Naas : Kisah Orangutan di Indonesia

Si Mawas bergelayutan di antara dahan-dahan.


"Di belahan hutan hujan tropis Andalas dan Borneo, sinar arunika menembus rimbunnya dedaunan rimba, menciptakan siluet indah seekor Mawas, dengan penuh riang bergelayut lincah di pepohonan yang menjulang. Mamalia Arboreal ini, dengan lengan panjang dan gerakan gemulai, adalah penjaga alam yang keberadaannya tak tergantikan."

Di belahan hutan hujan tropis Andalas dan Borneo, sinar arunika menembus rimbunnya dedaunan rimba, menciptakan siluet indah seekor Mawas, dengan penuh riang bergelayut lincah di pepohonan yang menjulang. Mamalia Arboreal ini, dengan lengan panjang dan gerakan gemulai, adalah penjaga alam yang keberadaannya tak tergantikan. Layaknya penari di atas panggung hijau, mereka adalah bagian penting dari harmoni ekosistem. Namun, harmoni itu kini seperti alunan yang terganggu—menjadi nada pilu akibat ulah manusia.

Mawas, atau yang juga dikenal sebagai Pongo, tidak sekadar makhluk liar. Ia adalah simbol kebijaksanaan alam, dengan tatapan mata yang seolah berkata, “Hutan ini adalah paru-paru dunia, rawatlah, atau kita semua akan bernapas dalam sesak.” Namun, ironi melanda; tempat mereka berpijak semakin menyusut, tergantikan oleh kepentingan ekonomi yang membabi buta. Orang-orang kapitalis, terus menyatroni rumah Mawas, seakan acuh melihatnya menangis lalu terbujur kaku dan tewas.

“Hutan ini adalah paru-paru dunia, rawatlah, atau kita semua akan bernapas dalam sesak.”

Rheza Maulana, S.T., M.Si., dalam sebuah pemaparannya pada 5 Desember 2024, menegaskan bahwa Indonesia merupakan negara megabiodiverse terbesar kedua di dunia setelah Brasil. Ia menjelaskan bahwa Indonesia memiliki keanekaragaman hayati yang sangat luar biasa, mencakup berbagai jenis flora dan fauna yang tidak ditemukan di tempat lain. Hal ini membuat Indonesia menjadi salah satu pusat keanekaragaman hayati dunia yang memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem global. Sebagai contoh, hutan hujan tropis Indonesia menyimpan berbagai spesies unik dan endemik yang memberikan kontribusi signifikan terhadap keanekaragaman hayati dunia. salah satunya adalah Si Mawas.

Dalam Forum Bumi yang diselenggarakan oleh Yayasan KEHATI dan National Geographic Indonesia, Mawas menjadi tema utama. Para ahli mengupas tantangan besar dalam melindungi keanekaragaman hayati, terutama degradasi habitat dan perburuan ilegal. Perdagangan TSL (Tumbuhan dan Satwa Liar) secara gelap telah menjadi duri dalam upaya konservasi, menjadikan Mamalia Arboreal ini salah satu korban utamanya.

Menurut data terbaru, populasi orangutan di Indonesia terus mengalami penurunan drastis. Diperkirakan, hanya sekitar 57.350 individu Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus) yang tersisa, dan mereka terbagi ke dalam tiga subspesies: Pongo pygmaeus pygmaeus, Pongo pygmaeus wurmbii, dan Pongo pygmaeus morio. Sementara itu, Orangutan Sumatra (Pongo abelii) memiliki populasi sekitar 13.846 individu, yang mayoritas berada di Kawasan Ekosistem Leuser. Subspesies terbaru, Orangutan Tapanuli (Pongo tapanuliensis), adalah yang paling terancam dengan populasi yang diperkirakan hanya 800 individu di habitatnya yang sangat terbatas di kawasan Batang Toru.

Ancaman ini diperburuk oleh laju reproduksi orangutan yang rendah. Betina orangutan hanya melahirkan setiap 7-9 tahun sekali, dengan rata-rata satu anak per kelahiran. Bayi orangutan juga memiliki masa ketergantungan yang panjang terhadap induknya, sekitar 6-8 tahun. Hal ini menyebabkan regenerasi populasi menjadi sangat lambat, membuat mereka sangat rentan terhadap dampak perburuan, degradasi habitat, dan bencana alam.

Selain itu, angka kematian orangutan di habitat alami juga cukup tinggi. Ancaman predator alami seperti ular besar dan macan tutul menambah tekanan terhadap populasi mereka, meskipun ancaman utama tetap berasal dari manusia. Angka kematian bayi orangutan di alam liar diperkirakan mencapai 20-30% dalam tahun pertama, sementara individu dewasa rentan terhadap konflik dengan manusia, termasuk penembakan dan penjebakan.

Di kawasan Batang Toru, habitat subspesies langka seperti Tapanuliensis menghadapi ancaman serius. Wilayah ini, yang menjadi rumah bagi satwa langka, kini terpecah oleh proyek pembangunan. Koridor ekologis yang selama ini menjadi jalur pergerakan mereka perlahan menghilang dan lenyap, membuat Mawas kehilangan jalan untuk hidup. Seperti pepatah, “Air tenang menghanyutkan,” ancaman ini sering tak terlihat, tetapi dampaknya begitu dahsyat luar biasa.

Kehadiran Undang-Undang No. 5 Tahun 1990 telah menjadi landasan penting dalam konservasi Mawas dan satwa lainnya. Prinsip tiga pilar konservasi—pelestarian, perlindungan, dan pemanfaatan berkelanjutan—adalah fondasi kuat yang hingga kini masih relevan. Namun, masa terus berjalan dan berputar, maka pembaruan diperlukan untuk menghadapi tantangan modern.

Undang-Undang No. 32 Tahun 2024 membawa angin segar dalam upaya pelestarian Mawas. Aturan baru ini memperluas cakupan konservasi hingga ke wilayah pesisir, pulau kecil, dan kawasan perairan. Tidak hanya itu, pengawetan kini dilakukan pada tiga level: habitat, spesies, dan genetik. Pendekatan ini memberikan harapan baru bagi Abelii, Mawas Sumatra yang berada di ambang kepunahan.

Namun, aturan tanpa tindakan adalah bagai menanam di tanah tandus. Dibutuhkan koridor ekologis untuk memastikan Mawas dapat bergerak bebas, mencari pasangan, dan menjaga keseimbangan genetik. Jalur ini bukan hanya penghubung antarhabitat, tetapi juga simbol keberlanjutan. Jika koridor ini hilang, maka dunia akan kehilangan penjaga hutan yang tak tergantikan.

Tapanuliensis, subspesies yang hanya hidup di Batang Toru, adalah kisah lain yang penuh tantangan. Habitat mereka kian terfragmentasi, membuat mereka terisolasi. Tanpa akses ke koridor ekologis, Mawas ini terancam kehilangan kemampuan untuk bertahan. Setiap langkah pembangunan tanpa memperhitungkan dampak ekologis adalah ancaman langsung bagi mereka.

Tidak hanya di Sumatra, kisah serupa terjadi di Kalimantan. Pygmaeus, Mawas Kalimantan, menghadapi tekanan serupa. Pembukaan lahan untuk perkebunan sawit dan tambang telah merampas rumah mereka. Jika kita abai, maka keberadaan mereka akan menjadi dongeng tragis bagi anak cucu kita.

Walaupun demikian, perjuangan ini bukan tanpa harapan. Dalam Forum Bumi, salah satu pembicara menegaskan pentingnya peran masyarakat adat dalam pelestarian Mawas. Mereka, yang hidup berdampingan dengan hutan, memiliki kearifan lokal yang dapat menjadi kunci keberhasilan konservasi. Perubahan bukan hanya soal aturan, tetapi juga tentang melibatkan hati dan tindakan nyata.

Prinsip baru dalam UU No. 32/2024 seperti penguatan larangan, sanksi pidana, dan pendanaan konservasi memberikan secercah harapan. Dana konservasi, dana perwalian, serta insentif atas kinerja pelestarian adalah langkah maju. Namun, semua itu harus diiringi pengawasan ketat agar tidak hanya menjadi wacana.

Koridor ekologis harus menjadi prioritas. Tanpa jalur alami ini, Mawas tidak akan mampu mempertahankan populasi mereka. Jalur ini adalah ruang untuk migrasi, kolonisasi, hingga mencegah inbreeding. Koridor ini juga membantu mitigasi konflik antara manusia dan satwa, menciptakan ruang untuk koeksistensi yang damai.

Kondisi hutan tropis bila tidak diusik manusia.


Bayangkan seekor Abelii yang terjebak di bawah puing-puing habitat yang terisolasi. Ia memandang jauh ke arah hutan lain di seberang sungai yang kini dipenuhi perkebunan. Tanpa koridor penghubung, ia tak mampu berpindah, mencari pasangan, atau bertahan hidup. Pernahkah terbesit dalam benakmu, bagaimana apabila kamarmu yang sudah kamu tata dan rapikan serta kamu jaga, kemudian datang seseorang yang tanpa aba-aba merusak dan mengacak-acak segala hal yang telah kau buat. Bagaimana rasanya? Ya, seperti itulah perasaan mereka, hutan yang seharusnya menjadi surga, kini menjadi penjara dan neraka yang begitu menyiksa.

Namun, Mawas tidak hanya korban; mereka adalah pahlawan ekosistem. Dengan peran mereka sebagai penyebar biji-bijian, Mamalia Arboreal ini menjaga regenerasi hutan. Mereka adalah penjaga yang sunyi tetapi tak tergantikan. Jika mereka hilang, maka hutan akan kehilangan jantungnya.

Langkah konkret seperti penegakan hukum yang lebih tegas dan pendanaan konservasi adalah jalan yang harus kita tempuh. Pemerintah, masyarakat, dan dunia usaha harus bersatu. Jika tidak, ancaman akan menjadi kenyataan. Ketegasan dan konsistensi perlu terpatri dalam diri, rela berdedikasi untuk negeri tanpa mengharap balas budi. Karena sejatinya, kitalah yang berhutang budi kepada mereka.

Mawas adalah cermin kita. Kehidupan mereka mencerminkan bagaimana kita memperlakukan alam. Ketika hutan mereka terbakar, ketika rumah mereka raib, itu adalah tanda bahwa kita telah gagal menjaga bumi ini. Apa bedanya kita dengan para penjajah terdahulu yang pernah menyiksa pribumi, memperkosa ibu pertiwi, lalu kini giliran kita menjadi penjajah tersebut untuk para pribumi di rimba Andalas dan Borneo? Mawas tidak bisa hidup di atas teras, apabila rimba hilang, nyawa mereka melayang.

Meskipun demikian, harapan akan selalu ada. Forum Bumi menjadi pengingat bahwa kita masih punya waktu untuk bertindak. Dengan melibatkan masyarakat hukum adat, memanfaatkan sumber daya genetik secara lestari, dan memperkuat peran serta masyarakat, kita dapat melindungi Mawas dan habitatnya. Mawas tidak pernah mengusik kita, mereka hanya menjalankan perannya. Mereka penjaga hutan bukan hewan peliharaan, mereka penjaga hutan bukan “alat pertunjukan.”



Di bawah naungan bayang-bayang pohon besar, seekor Mawas bergelayut. Lengan panjangnya meraih dahan demi dahan, kepalan tangannya begitu kokoh menggenggam pepohonan, seolah melambangkan harapan. Hutan adalah panggungnya, dan ia adalah pemeran utamanya. Kita sendiri merupakan penonton yang sedang menikmati tarian indah alam dengan penuh hikmat. Kitalah yang memiliki kekuatan untuk memastikan cerita ini tidak berakhir tragis.

Mari kita jaga Mawas, bukan hanya karena mereka indah, tetapi karena mereka spesial, mereka patut untuk hidup layak, mereka penting dalam memberikan keseimbangan alam. Setiap gerakan mereka adalah napas hutan, dan setiap napas hutan adalah kehidupan kita. Jangan biarkan mereka lenyap menjadi dongeng. Apakah kita mau bila nanti anak cucu kita hanya tahu bahwa terdapat legenda Si Mawas penjaga rimba yang tewas karena bernasib naas? Mereka adalah penjaga langit hijau—dan selamanya harus tetap begitu.

"Apakah kita mau bila nanti anak cucu kita hanya tahu bahwa terdapat legenda Si Mawas penjaga rimba yang tewas karena bernasib naas?"


Si Mawas yang sedang merenung sedih.


Comments